Feeds:
Posts
Comments

19 tahun di Yogyakarta belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke Museum Batik Yogyakarta, padahal bisa dibilang lumayan sering lewat di Jl. Dr Sutomo (lokasi Museum Batik Yogyakarta di jalan tsb). Akhirnya tgl 1 Oktober kemaren, kebetulan pas lewat daerah situ, kami (aku, hubby ‘n Aqila) putuskan untuk mampir ke museum tsb. Lokasi tepatnya di Jl. Dr Sutomo No. 13A. Menurut petunjuk yang ada, museum ini buka dari hari Senin s/d Sabtu jam 09.00 – 12.00 dilanjut 13.00 – 15.00. Untuk hari Minggu/Libur bisa buka -dengan perjanjian- untuk rombongan/study tour, atau kalo tamu personal minimal 5 orang. Harga tiket yang dikenakan Rp. 15.000/orang (cukup berasa juga bila dibandingkan masuk ke museum lain yang HTM-nya ga sampai segitu, tapi mungkin karena pengelolaan museum ini oleh pribadi jadi ya wajar kali ya dengan harga segitu, mengingat untuk operasional ‘n perawatan koleksinya yang tentunya membutuhkan biaya yang ga sedikit). ‘n sekilas info, di museum ini tidak diperkenankan memotret (kecuali kalo foto-fotonya di luar museum) -hiks, sayang sekali… padahal ga afdol kalo dolan-dolan ga pake narsis huhuhu-

Menurut berbagai sumber, museum ini diresmikan pada 12 Mei 1977 atas prakarsa keluarga Hadi Nugroho. Semua koleksi yang ada di museum ini adalah koleksi pribadi yang dikumpulkan sejak dari generasi eyang buyut Bp Hadi Nugroho/Ibu Dewi Sukaningsih -sekilas info, pengelola museum saat ini yaitu Ibu Dewi Sukaningsih, merupakan generasi ke-4 & telah berusia 80-an sehingga pengelolaannya akan segera berlanjut ke generasi berikutnya-
Sebenernya dalam satu kompleks museum ini (satu bangunan) ada juga museum sulaman ‘n museum embroidery (alias bordir), yuk diintip satu per satu apa aja sich koleksinya…

Mulai dari museum batik dulu ya. Dari namanya sudah mencerminkan apa aja koleksinya. Yup betul! Tentunya hal-hal yang berkaitan dengan batik, seperti: peralatan untuk membuat batik (ada canting untuk batik tulis ‘n cap batik untuk batik cap, lilin batik atau biasa disebut malam, pewarna untuk batik dan konco-konconya). Trus ada semacam skema/diagram proses pembuatan batik, baik batik tulis maupun batik cap dan yang utama adalah koleksi kain batik dari berbagai daerah ‘n dari berbagai tahun pembuatan, yang jumlahnya buanyak banget -hehehe… sorry ya, ga sempet tanya jumlah pastinya-
Canting yang merupakan alat untuk membatik ternyata banyak variasinya (ga melulu berlubang 1) > tujuannya untuk mempermudah (‘n mempercepat?) proses membatik, misal ada canting yang lubangnya 3 untuk membuat cecek (alias titik) berjumlah 3, canting berlubang 2 dll.
Cap batik dengan beragam motif (mulai dari cap jaman baheula) ada di sini. Yang pasti jumlahnya buanyakk banget.
‘n yang paling mengagumkan adalah koleksi kain batiknya. Ada yang berasal dari tahun 1870-an bo’, Woww…!! ‘n emang koleksi kain batik di museum ini adalah kain batik tulis yang sudah tua (umurnya udah setengah abad lebih) dari berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Surakarta alias Solo, Pekalongan, Lasem, Cirebon dll, dengan ciri khasnya masing-masing. Ada kain panjang dengan berbagai pola juga sarung isen-isen ‘n sarung soga Jawa.
Jadi inget kain batik simbah yang pernah ku’rombak’ jadi celana ‘n sekarang entah kemana. Duh duh duh… andai kutau itu batik tua -ternyata tu batik asal Solo dari tahun 1950-an (baru tau setelah liat di Museum Batik)-

Sedangkan koleksi yang dipajang di museum sulaman adalah koleksi sulaman yang dibuat sendiri oleh ibu Dewi, berupa potret diri ‘n keluarga, tokoh-tokoh Indonesia dan dunia, juga sulaman berukuran 90 x 400 cm yang mendapatkan penghargaan dari MURI
Untuk museum embroidery/bordir, yang tersimpan di sini adalah beraneka ragam pola-pola bordir, juga beberapa kebaya (kebaya encim?) berhias bordir yang sangat halus.

Oya, sekilas info, di Museum Batik Yogyakarta juga membuka kursus membatik dengan tarif (menurut info dari penjaganya ni) Rp. 25.000,-/jam. Berminat?! Silakan meluncur ke TKP… Yukk, mariii

Rumah Gerabah ini tetanggaan ma Rumah Batik di Taman Pintar Yogyakarta, lokasinya bersebelahan. Kalo pingin ikutan bikin gerabah di sini boleh-boleh aja, tapi kudu beli tiket dulu di ticket box. Ga mahal kok, cuma Rp. 5.000,-/orang. Anda akan mendapatkan sekotak kecil tanah liat/clay yang siap dibentuk menjadi gerabah.

“siap-siap…”

Prinsipnya sama kaya’ main playdough (alias lilin mainan yang warna-warni itu…) cuma bahannya aja yang beda. ‘Coz Aqila lagi ga mood main ‘kotor-kotor’ so emaknya dech yang main :p

“hasil gerabah setengah kering”

Abis dibentuk suka-suka kita, gerabah yang masih ‘basah’ dijemur di bawah sinar matahari sampai kering. Indikasi kering kalo udah berubah warna lebih muda ‘n udah mengeras (cara gampangnya gitu hehehe). Kalo gerabah belum sampe kering bener kitanye dah pingin pulang, bisaa… tinggal bawa pulang aja, beres khan?! Ntar jemurnya dilanjutin di rumah. Kalo tanah liat/clay masih bersisa, bisa dibawa pulang kok, untuk mainan di rumah. Aseek khan?! ‘Met berkreasi…

Selain playground, gedung oval, gedung memorabilia, gedung PAUD dkk, ada satu tempat di Taman Pintar yang cukup aseek untuk ‘dikunjungi’. Rumah Batik. Sesuai dengan namanya, di sini kita bisa belajar membatik. Cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp. 5000,-/orang kalo mau ikutan membatik, ‘n gratis kalo cuma pingin liat-liat doank -tiket bisa dibeli di ticket box-

“yuk membuat pola…”

Setelah menyerahkan tiket ke mbak/mas ‘penjaga rumah batik’, kita akan mendapatkan selembar kecil kain mori/kain putih (lk ukuran 14 cm x 14 cm). Pertama, kita disuruh gambar pola. Terserah kita mo gambar apa, bebas, suka-suka kitalahh… Selesai itu, kain ‘dijembreng’di atas kerangka kayu kotak. Mungkin maksudnya untuk mempermudah kita aja sewaktu melapisi pola dengan lilin/malam. Selanjutnya adalah melapisi pola yang sudah kita buat dengan lilin/malam, dengan bantuan alat yang namanya canting. Ini nich bagian yang menurutku pualing susah. Lapisan lilin/malam-nya harus tembus bagian belakang kain (kalo sampai ga tembus terpaksa nanti diulang dari bagian belakang), katanya sich kalo ga tembus sampai belakang nanti hasilnya kurang bagus. Kesulitan yang lain adalah karena belum terbiasa megang canting, jadinya lilin/malam sering netes, jadi totol-totol dech… Oya, bagian yang tertutup lilin/malam nantinya adalah bagian yang berwarna putih.

“melapisi pola dengan lilin/malam, uhh susahnya…”

Langkah selanjutnya adalah mewarnai. Lupa nanya pewarna apa yang dipakai, tapi yang pasti pewarna kain lah yaa… Trus kain yang sudah diwarnai tadi dijemur dech sampai kering. Sambil nunggu kering, jalan-jalan dulu ahhh… Kalo dah kering, proses selanjutnya adalah dicelup, kemudian ‘nglorot’(proses pelepasan malam) dan terakhir dijemur lagi/dikeringkan. Jadi dech… Hasil kreasi batik kita bisa dibawa pulang, buat kenang-kenangan.

Tertarik mo coba membatik?! Datang aja ke Rumah Batik @Taman Pintar Yogyakarta.

“ini dia hasil akhirnya… :)”

Waktu baca koran, lihat agenda acara, ada Pameran Celengan di Benteng Vredeburg. Mumpung ga ada acara, iseng-iseng ahh nonton ke sana. Masuknya ga bayar kok, tapi kudu beli tiket masuk ke Benteng Vredeburg sebesar Rp 2000/orang (hehehe… sama aja bayar ya). Pameran Celengan “Simpan Satu Rupiah” ini yang nyelenggarain Museum Anak Kolong Tangga Yogyakarta. Tempat penyelenggaraan di Ruang Pameran Benteng Vredeburg Lt 2 -pintu masuk Benteng Vredeburg, sebelum patung pak Dirman belok kiri trus mentok, ada tangga naik ke atas, disitulah tempatnya- Waktunya dari tanggal 23 Oktober 2010 s/d 2 November 2010, dari jam 09.00 s/d 21.00 WIB. Selain pameran, juga ada workshop untuk anak ‘n pasar anak (bukan pasar yang jualan anak atau pasar yang penjualnya anak loh, tapi pasar yang menjual kebutuhan anak seperti pakaian anak, mainan anak, pernak-pernik dll).

Celengan karya Kartika Affandi


Bicara tentang Pameran Celengan, pasti dah pada tau apa yang dipamerin. Yup, betul! Celengan!! Sapa sich yang ga kenal benda satu ini?! Ayo.. ayo… sapa yang ga tau apa itu celengan?! Aku yakin sebagian besar dari kita tau atau mengenal si ‘Celengan’. Kalo menurut R Corens (Kurator Museum Anak Kolong Tangga) adanya pameran ini bermaksud untuk mengangkat sesuatu yang dulunya populer, tetapi sekarang (sangat disayangkan) mulai hilang dari perhatian kita, ya si celengan itu. Hmm… bener juga ya, sekarang mah kalo mo nyimpen duit pada ke bank (demi keamanan katanya), jarang banget yang nyimpen di celengan, tul ga?! Selain itu, alasan praktis, bikin celengan semakin ‘ditinggalkan’. Dan mungkin banyak alasan lain yang bikin si celengan semakin pudar pamornya. Eh nek wong sing sugih mblegedu, duite em-em-an, disimpen nang celengan, wah segedhe opo celengane?! -hayah, lebay!-

Koleksi celengan berbentuk ayam dan anak-anaknya


Kembali ke Pameran Celengan, penyelenggara juga ingin menunjukkan bahwa celengan dengan sejarah dan cerita masa lalunya menyuguhkan lebih dari sekedar tempat menyimpan uang. Celengan dari Jawa tidak hanya merupakan bagian dari tradisi tetapi juga merupakan saksi mata yang unik dari kreativitas pengrajin tanah liat sepanjang masa. Selain itu, juga ingin menunjukkan bahwa menabung bukan hanya bagian dari perilaku ekonomi yang berpandangan untuk masa depan, tetapi di waktu yang bersamaan juga melibatkan sosial budaya, hal-hal yang berbau takhyul dan tindakan pencegahannya. Kegiatan menabung merupakan hasil dari sejarah, perkembangan sosial dan ekonomi dari 90% populasi dunia -gitu, menurut informasi yang aku dapat dari selembar kertas yang dibagikan ke pengunjung- Makanya, selain memamerkan koleksi berbagai ragam celengan, pameran ini dilengkapi pula dengan benda-benda, dokumen, foto, artikel dll yang ada berkaitan dengan mitos dan latar belakang budaya si celengan ini.

Ma, Aqila mau celengan kucing…!


Koleksi celengan yang dipamerkan ada yang merupakan artefak asli zaman Majapahit, sebagian besar celengan dari daerah Jawa (Solo, Yogya, Cepu, Jawa bagian Timur dll), ada juga celengan dari berbagai negara (Amerika, China, Portugal dll), tentunya dengan berbagai bentuk dan terbuat dari berbagai bahan (keramik, tanah liat, kaleng, besi, plastik dll). Yang menarik adalah aneka bentuk celengan tsb. Sebagian besar yang dipamerkan berbentuk binatang. Ada celeng alias babi, ayam, kuda, gajah, kucing, kelinci, sapi, macan, anjing, rusa, kura-kura, katak. Ada yang berbentuk wayang seperti tokoh punokawan dan Gatotkaca, berbentuk manusia, sampai yang bentuknya kaya’ tabung juga ada. Macem-macem dech… Penasaran?! liat aja sendiri, mumpung masih 9 hari lagi.

Celengan karya Djoko Pekik


Sekilas info, kata celengan dalam bahasa Italy = salvedennaio, moneybox/moneytill/piggybank (Inggris), chokin-bako (Jepang), thesaurus (Yunani kuno), kitties (Skotlandia), haralatan (Tunisia), sparbuchse/sparschwein/sparschrank (Jerman).

Setelah dari Ruang Koleksi KASAU dan KOTAMA, ini dia ruang yang paling disukai Aqila -huhuhu… dia heboh banget di sini, tunjuk sini tunjuk sana, lari sini lari sana- Ruang Koleksi Pesawat… Ada sekitar 30-an pesawat berbagai jenis dan ukuran ‘dipajang’ di sini. Juga beberapa peluru kendali dan radar.

Koleksi pesawat yang ada di sini dilengkapi dengan deskripsi dan sejarah singkat (bilingual jack!) jadi kita ga cuma lihat doank, tapi bisa sedikit nambah pengetahuan. Ini nich koleksi pesawat & helikoper yang ada -untuk deskripsi dan sejarahnya, baca sendiri aja ya, ga aseek donk kalo ditulisin di sini, cape’ euyyy-

  • Glider Kampret
  • P-51 Mustang
  • Mitsubishi A6M5 Zerozen
  • L4J Piper Cub
  • Cureng
  • BT-13 Valiant
  • AT-16 Harvard
  • North American B-25 Mitchel
  • TS-8 Bies
  • C-47 Dakota (mo coba naik ke dalam pesawat?! bisa kok)
  • Helikopter Hiller 360 (ini helikopter yang digunakan presiden I RI)
  • Vampire DH-115
  • B-26 Invander
  • Helikopter UH-34 Sikorsky
  • Hovercraft XHV-02
  • MIG-17 (Mikoyan Gurevich-17)
  • MIG-19 Fighter
  • MIG-21 / F-13
  • Helikopter MI-4
  • UTI MIG-15
  • L-29 Dolphin
  • F-86 Avon Sabre
  • T-33A-10T Bird
  • LA-11 Lavochkin
  • PZL 104 Wilga Gelatik
  • LT-200
  • Replika Nishikoreng
  • Auster Mark II
  • C-140 Jetstar
  • Nakajima KI-43-II Hayabusha (Oscar)
  • Mitsubishi Army 98 Guntei (Sonia)

Kalo kita lihat pesawat-pesawat yang ada di sini, woww…!!! jaman segitu Indonesia udah punya pesawat-pesawat yang keren. Makanya Indonesia (dulu) begitu disegani. Kalo sekarang?! No comment dech… (takut salah). Kalo ga salah, ada pesawat dari jaman baheula sampai sekarang masih dipakai, hmm…

Disamping pesawat dan helikopter, ada juga radar darat NYSA, peluru kendali SA-75, stearman, rudal KS, rudal K-13, peluncur roket hispano, meriam PSU, triple gun dan heavy machine gun 12,7 mm. Oya, satu lagi, ruang bertekanan rendah alias hypobaric chamber, untuk melatih awak pesawat hal-hal yang berhubungan dengan aero fisiologis.

Sekilas info, untuk yang suka narsis, pingin foto pake seragam penerbang?! Bisa banget. Cukup rogoh kocek 20rebu doank, prat pret… jadi dech. Tempatnya nyelip di antara pesawat-pesawat, cari aja, pasti ketemu.

Setelah puas ‘ngobok-obok’ ruang koleksi pesawat, langkah kami selanjutnya ke Ruang Diorama -ngadem dulu ahh…- Di ruang ini isinya ya diorama-diorama, ada diorama tentang pembentukan TKR bagian Penerbangan, diorama tentang perebutan pangkalan udara Maguwo (Yogya) tanggal 9 Oktober 1945, penerbangan pesawat merah putih yang pertama tanggal 27 Oktober 1945, pembukaan pangkalan udara di Gadut Bukit Tinggi (24 Maret 1947), pemboman Semarang Salatiga dan Ambarawa tanggal 29 Juli 1947, gugurnya tiga perintis TNI AU tanggal 29 Juli 1947, operasi penerjunan pasukan RI pertama di Kalimantan (17 Oktober 1947), perlawanan AURI pada Agresi II 19 Desember 1948, penerobosan blokade udara oleh pesawat RI 001 Seulawah dari Birma ke Aceh (8 juni 1949), serah terima markas besar Militaire Luch Vaart (ML) dari pemerintah Belanda kepada pemerintah RI (27 Juni 1950), penerbangan pesawat jet pertama (21 Januari 1956), operasi Trikora 1962 dan… pokoknya masih banyak lagi dech diorama-diorama lainnya.

Ruang selanjutnya yang harus dilewati adalah Ruang Diorama Sistem Komunikasi Satelit Palapa. Waaa… remang-remang gitu ruangannya, trus ada suara-suara, kelap-kelip… Aqila takuttt!!! Jadi kami ga berlama-lama di sini. Numpang lewat aja. Dan mendekati pintu keluar kita masih melewati satu ruangan lagi yaitu Ruang Perkembangan Skadron Udara sejak Tahun 1950. Semakin mendekati pintu keluar ada koleksi miniatur-miniatur pesawat sumbangan para donatur, juga ada satu pesawat kecil buah karya anak negeri.

Lagi-lagi sekilas info, di samping pintu keluar juga menjual souvenir macam kaos bergambar pesawat, miniatur pesawat, emblem, gantungan kunci, sticker, pin pesawat dll -silakan ditengok sendiri, sukur-sukur dibeli-

Keluar dari museum, kita bisa duduk-duduk santai di bawah pepohonan sambil menikmati angin semilir, ngobrol-ngorbol, makan-makan, minum-minum, foto-foto, suka-suka kita. Atau melihat-lihat pesawat yang karena ukurannya, tidak bisa masuk ke Ruang Koleksi Pesawat. Ada pesawat jenis VF-1 Albatros (pesawat amphibi), Tupolev TU-16B/K5 (M-1625), satu peluru kendali di halaman depan museum, dan satu lagi pesawat (ga tau jenisnya) di halaman samping museum. Kalo kita rasa cukup, bisa pulang, tapi jangan lupa ambil tanda pengenal kita aka KTP di pos jaga Karang Jambe. Yukkk mari…

Akhir pekan bo’ daripada bete di rumah -dah beberapa hari ga ‘keluar’ rumah coz cuaca yang ga memungkinkan, ujan euyy- mumpung cuaca lagi cerah, mendingan jalan-jalan yukk… Karena si kecil seneng liat pesawat (kalo ada pesawat lewat, pasti nunjuk-nunjuk heboh) sekalian aja jalan-jalannya ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, biar bisa liat pesawat yang asli. Dan… tadaaa sampai dech di museum. Oya, bagi yang mau berkunjung ke museum, kalo lewat pos penjagaan (pos Karang Jambe) lapor dulu yak ma ninggalin tanda pengenal alias KTP (emang gitu prosedurnya hehehe…) Untuk masuk ke museum dikenakan tarif Rp 3000/orang, kalo rombongan mungkin beda ya tarifnya. Nah, sekarang apa aja yang bisa kita lihat di museum Dirgantara Mandala?! Banyakkkk… -moga aku ga banyak lupa… lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya-

Memasuki pintu museum, langkah pertama yang harus kita ambil adalah belok kiri (ke tempat informasi), karena di situ kita harus mengisi buku tamu dan membayar tarif masuk, baru kemudian kita bebas melenggang kemanapun kita suka. Maju beberapa langkah, kita bisa mulai melihat-lihat koleksi Museum TNI AU Dirgantara Mandala. Yang ada di ruangan besar ini, antara lain, foto-foto KASAU mulai dari yang pertama, Bp. S Suryadarma (ga usah sebutin pangkat & embel-embel ya, maaf… lupa sich) sampai dengan yang sekarang sedang menjabat (pak Imam Sufaat). Ada juga pataka-pataka, lambang TNI AU dan… patung kayu segedhe manusia, 4 orang (pahlawan) dari TKR Udara yang berjasa besar yaitu Halim Perdana Kusuma, Iswahyudi, Abdurrahman Saleh dan Adisucipto (mohon maaf banget kalo ada salah penulisan nama)

Ruang berikutnya yang lebih ke dalam, disamping berisi dokumentasi-dokumentasi, miniatur-miniatur pesawat beserta cerita terkait, juga ada satu pesawat beneran -sorry, lupa nama/jenisnya-

Di ‘ruang sebelah’-nya kita bisa melihat-lihat tentang perintisan jawatan kesehatan TNI AU, ya foto-fotonya, ya patung torsonya (dr S Hardjo Lukito, dr M Salamun, satu lagi… ahh lagi-lagi lupa namanya, maaf), ya alat-alat untuk pemeriksaan jantung, pemeriksaan urine dll.

Ruang berikut adalah Ruang Pahlawan dan Seragam TNI AU. Dari namanya dah ketauan tho apa aja isi ruangan tsb. Sebagian benda-benda milik pahlawan Adisucipto, Abdurrahman Saleh, Iswahyudi dan Halim Perdana Kusuma (berupa kacamata pilot, helm, tanda jasa, pakaian dll). Juga seragam-seragam yang dipakai anggota TNI Angkatan Udara seperti pakaian dinas harian, pakaian dinas untuk upacara, pakaian untuk lapangan, untuk terbang (yang dipakai penerbang) dll.

Dari ruang pahlawan, kita menuju Ruang Koleksi KASAU dan KOTAMA. Apa aja sich isinya?! Ada sebagian koleksi pribadi mantan-mantan KASAU (seragam dinas, bintang jasa, foto dll) trus dokumentasi/foto-foto, pataka dan barang koleksi dari Kodik AU, Akademi TNI AU, Sesko AU, Koharmat AU, Koops AU I & II, Kohanudnas, Korpaskhas, ada juga buku-buku yang berhubungan dengan TNI AU, juga daftar nama lulusan Sekbang TNI AU (mulai dari yang pertama s/d yang terkini)

-to be continued-

Back!

Akhirnya ngeblog lagi setelah sekian taon ‘kosong’ -hikss belum sempet pindahan eh Y!360-nya dah closed, ilang dech jerih payah selama ini (mewek mbil gulung-gulung)- trus… hmm, kaya’nya banyak yang ‘salah persepsi’ nich, padahal udah jelas kutulis pengetahuanku tentang anggrek nol besar, itu artinya aku bukan ahli anggrek. Kok banyak yang nanya tentang anggrek ya?! -pusyingggg… 7 putaran-