
Hari Minggu, 12 Januari 2008 aku ‘n Kang Menul ada waktu untuk jalan-jalan. Udah lama ngga dolan ke obyek-obyek wisata, udah lama ngga hunting foto (halah gayane!), jadi kangen nehh… Abis maem mie ayam langganan, mulailah kami puter-puter. Kemana?! Karena waktu itu lewat di daerah Berbah Sleman, Kang Menul mengajakku untuk ke Candi Abang. Selama tinggal di Jogja, belum pernah sekalipun kami ke sini. Dengar nama Candi Abang sich dah sering, tapi belum pernah dolan ke sini, makanya kami penasaran banget. Dengan modal nekad kami menuju Candi Abang. Belum pernah kesitu, apa ngga takut kesasar?! Hohohoho… khan ada Kang Menul yang sotoy abis, jangan takut nyasar dech. Bagi yang belum pernah ke Candi Abang, dan ngga tau dimana letak Candi Abang (dukuh, desa, kecamatan) aku sarankan ajak pemandu. Soalnya untuk menuju ke Candi Abang minim papan petunjuk sich. Kemarin aja dengan mengandalkan feeling ‘n juga sempat bertanya 2 kali, plus kesasar ke Gua Jepang, akhirnya tidak sia-sia perjuangan kami menemukan lokasi Candi Abang yang benar-benar terpencil.
Begitu kami lihat plang nama Candi Abang, plongg rasanya. Biarpun untuk kesitu harus sedikit mendaki (motor terpaksa ditinggal di bawah karena ngga kuat mendaki, maklum motor tua), tapi ngga masalah karena sebentar lagi rasa penasaran kami terpenuhi sudah. Dengan semangat ‘45 aku ‘n Kang Menul naik ke atas. Lho, dimana candinya??!! Sebelumnya kami membayangkan bakal melihat bangunan/reruntuhan candi seperti di candi-candi lainnya. Tapi apa yang kami bayangkan ini ternyata tidak kami temui di Candi Abang. Yang ada hanya bukit kecil dengan rerumputan hijau. Dimana gerangan dikau Candi Abang?! Penasaran, aku ‘n Kang Menul naik ke atas bukit, sapa tau Candi Abang terletak di bagian bukit yang agak cekung. Tapi tetap aja kami ngga menemukan keberadaan Candi Abang. Kami mulai curiga, jangan-jangan bukit yang kami naiki inilah Candi Abang yang sebenarnya. huhuhu… maaf, kami tidak tahu. Di bagian bukit yang agak cekung tsb kami lihat susunan batuan (seperti batu bata) diantara rumput-rumputan hijau. Ahahahaha, rupanya nama Candi Abang diberikan karena Candi ini berwarna merah (terbuat dari batu bata). Dalam bahasa Jawa, abang berarti merah. Dan karena terbuat dari batu bata ini sehingga Candi Abang tidak seawet candi-candi lainnya.
Berdasarkan literatur yang aku baca (kemudian), karena di lokasi Candi Abang ini tidak ditemukan papan informasi, katanya Candi Abang ini dibangun sekitar abad ke-9 dan ke-10. Yaitu pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini merupakan candi Hindu. Bentuk candi (konon) berupa segi empat dengan ukuran 36 x 34 m. Dan katanya, sewaktu pertama kali ditemukan di dalam candi ini terdapat arca dan alas yoni lambang Dewa Siwa yang berbentuk segi delapan (alas yoni yang biasa ditemukan biasanya berbentuk segi empat) dengan sisi berukuran 15 cm. Jangan harap kita akan melihat arca maupun alas yoni ini ketika kita berkunjung ke Candi Abang saat ini. Melihat bentuk utuh Candi Abang aja ngga kesampean apalagi melihat arca plus alas yoni, yang mungkin saat ini sudah diamankan di tempat lain.
Yah demikianlah hasil jalan-jalan kami ke Candi Abang. Sekarang kami udah ngga penasaran lagi. Biarpun tidak bisa dikatakan puas, setidaknya kami jadi tau ohhh itu toh yang dinamakan Candi Abang. Oya, pemandangan di lokasi Candi Abang ini bagus banget lohh… Kalo cuaca lagi terang, kita bisa melihat megahnya Gunung Merapi juga pemandangan lain yang ngga kalah OK. Eitss bentar, kaya’nya ada yang kelupaan nich. Candi Abang ini berlokasi di Dusun Candi Abang Desa Jogotirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman DIY. Satu lagi, orang hamil dilarang kesini! Bukan kenapa-kenapa, perjalanan yang penuh goncangan takutnya bisa menyebabkan keguguran. Behhh jalannya bo’ top markotop dech. Perutku yang penuh mie ayam jadi mules setelah melalui jalan yang huhuhuhu…. bikin kita mumbul-mumbul.
Keterangan Gambar: (bukit) Candi Abang, by Inyu