
Seperti yang udah diceritakan di postingan sebelum ini (tentang Candi Abang), aku ‘n Kang Menul sempat nyasar ke Gua Jepang. Gua Jepang yang ini merupakan salah satu dari sekian banyak Gua Jepang yang bertebaran di wilayah Indonesia. Heran ya, kenapa orang Jepun demen banget bikin gua ‘n ngumpet di gua?! Gua Jepang yang satu ini berlokasi di Dukuh Blambangan Desa Jogotirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman DIY. Di Gua Jepang ini terdapat 4 lorong untuk masuk. Kalo ngga salah masing-masing lorong ini saling berhubungan. Karena kondisi yang gelap dan becek, aku ‘n Kang Menul ngga berani menelusuri gua terlalu jauh. Apalagi kami ngga membawa peralatan yang memadai. Jadi kami juga ngga tau apakah gua ini tembus ke suatu tempat atau buntu. Waktu masuk ke dalam gua, aku sempet ngeri juga. Sempet parno gara-gara hari sebelumnya nonton TV yang acara hewan-hewan berbahaya (salah satunya ular), jadi kepikiran jangan-jangan ada ular juga di gua ini hehehe…
Biasanya orang Jepang (pada masa Perang Dunia II) menggunakan gua-gua ini sebagai tempat perlindungan/pertahanan militer. Aku ngga tau apakah Gua Jepang di Jogotirto ini juga digunakan untuk itu, ataukah ada fungsi yang lain. Monggo kalo ada yang tau, bisa ditambahkan.
Keterangan Gambar: Salah satu lorong Gua Jepang di Dukuh Blambangan Desa Jogotirto, by Menul
ditempat saya juga ada gua jepang yang letaknya di desa jambu kecamatan licin kab. banyuwangi (sebut saja sodong tempat gua itu), letaknya dipinggir sungai. kalo kita mau naik ke gunung ijen (kawah ijen) setelah perkebunan lijen sebelum paltuding akan melewati tempat yang namanya sodong. sayang sekali saya tidak punya fotonya, nanati kalo saya pulang kampung dan ada waktu akan saya foto.
Kalau nggak salah di Taman wisata kaliurang juga ada gua jepang, apakah ini yang dimaksud. Lokasinya berada di lereng sebelah barat kalau kita hendak ke tampat pematauan Gunung merapi. Dahulu tahun 1967 di Maguwo juga ada lubang-lubang mirip gua yang mungkin untuk pertahanan tentara jepang terhadap serangan udara. Itulah sebabnya di sebut Maguwo.
Terima kasih atas ceritanya.
By writer of Hajji Book:
40 Hari Di Tanah Suci
Thank you