Tour de Temple: Sambisari Temple
November 21, 2007 by cjoeniani
Lanjutin Tour de Temple II: Gebang Temple, yang dah terlaksana pada 5 Maret 2006. Berhubung waktu itu cuaca ngga mendukung (hujan), so.. cuma 1 candi doank yang sukses kami kunjungi. ‘n baru pada tanggal 7 Maret 2006 yang bertepatan dengan hari Selasa Pon, jam 09.50 WIB, kami (aku ‘n Menul) dikasi kesempatan jalan-jalan lagi, aseekkk…!! Cuaca cerah, malah cenderung hot… hot…hot.
Tujuan pertama, Candi Sambisari yang secara adminstratif terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara resmi (maksudnya, pake beli ticket masuk segala gitu…, Red.) ini merupakan kunjungan kami yang ke-2. Kalo secara ngga resmi sich udah ngga inget lagi berapa kali kami lewat kompleks Candi Sambisari tsb. Yang jelas dah lebih dari 10x. Tapi ya cuma numpang lewat doank, di jalan samping kompleks percandian, sambil iseng-iseng curi pandang ke arah candi. Dengan HTM alias Harga Tiket Masuk sebesar Rp. 500,-/orang, sayang banget khan kalo obyek wisata sekaligus peninggalan sejarah sebagus ini terlewat gitu aja. Bayangin aja harga tiket masuknya tu lebih murah dari harga segelas es teh! Tapi kaya’nya (dari hasil pengamatanku tiap lewatin tu candi) emang jarang banget orang yang mau berkunjung ke situ. Bahkan ini ngga cuma terjadi di Candi Sambisari aja, candi-candi lain seperti Candi Sari, Candi Gebang, Candi Ijo, dkk, emang sepi peminat (kaciann ya…), dibandingkan dengan Candi Prambanan atau Candi Borobudur. Kalah pamor kali yee… disamping karena faktor-faktor lain (antara lain kemudahan transportasi, pengelolaan, promosi,etc). Sepinya pengunjung ini terkadang malah dimanfaatin ma ABG-ABG untuk tempat pacaran! (kebangeten banget khan… kaya’ ngga ada tempat lain aja!), apalagi kalo ngga ada penjaganya, seperti yang pernah aku lihat di Candi Banyunibo. Aku jadi berpikir, selain jadi arena pacaran kira-kira apa aja ya yang pernah dilakuin orang di tempat-tempat (candi-candi) tsb?! Cari inspirasi atau wangsit kali yee… (’coz tempatnya emang cocok untuk itu), atau malah dijadiin tempat uji nyali Dunia Lain?! Hiii… serem…!!! (kok malah sampe sini sich ceritanya!)
Lanjut tentang Candi Sambisari, untuk mencapai lokasi candi emang agak ribet kalo ngga pake kendpri alias kendaraan pribadi (baik itu roda 2, 3, 4 atau lebih). Masalahnya ngga ada kendaraan umum yang lewat situ. Tentang Candi Sambisari ini pastilah ada sejarahnya. Tertarik?! Simak aja penjelasan di bawah, yang berhasil dirangkum dari papan informasi yang ada di sana. Sekali lagi, andalanku dalam memperoleh info seputar candi adalah papan informasi. Mungkin tahap selanjutnya (pinginnya sich…) bisa tanya langsung ke narasumber ‘n cari-cari literatur. Kapan itu?! au ahh… namanya juga masih wacana.
Informasi Singkat Seputar Candi Sambisari: pertama kali ditemukan secara ngga sengaja oleh seorang petani yang sedang menggarap lahan milik Bapak Karyoinangun, pada bulan Juli 1966. Penemuan ini, yang ternyata merupakan batu reruntuhan candi, ditindaklanjuti oleh pemerintah melalui instansi terkait (yang ngurus-ngurus masalah kepurbakalaan) dengan melakukan serangkaian penelitian, penggalian atau ekskavasi, pra pemugaran, penyusunan percobaan dan pemugaran, yang hasil dari pemugaran tsb seperti yang nampak sekarang ini dan telah diresmikan pada Maret 1987. Candi Sambisari ini merupakan kompleks percandian dengan 1 buah Candi Induk dan 3 buah Candi Perwara yang ada di depannya. Candi ini menghadap ke Barat. Pagarnya berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 13,65 x 13,65 m dengan tinggi 7,5 m. Yang menarik dari candi ini adalah tidak terdapat kaki candi yang sebenarnya, disamping itu pada selasar terdapat 12 buah batu-batu pipih dengan tonjolan di atasnya (seperti umpak), dimana 8 buah berbentuk bulat dan 4 buah berbentuk persegi. Tubuh candi induk berukuran 5 x 5 m dengan tinggi 2,5 m, di luar dinding tubuh candi terdapat relung-relung yang ditempati oleh arca Dewi Durga (relung Utara), Ganesha (Timur) dan Agastya (Selatan). Sedangkan pada kanan kiri pintu masuk terdapat dua relung yang ditempati oleh dua dewa penjaga pintu yaitu Mahakala dan Nandiswara (sayangnya… sekarang ini dua arca dewa itu udah ngga ada di posnya, capek kali jagain pintu trus). Di dalam bilik candi terdapat Yoni, dimana Cerat Yoni ini menghadap ke Utara, dan di bawah Cerat terdapat hiasan seekor naga. Di atas Yoni terdapat Lingga, dan dibawah Yoni terdapat perigi. Pada halaman pertama terdapat 8 lingga semu yang terletak pada delapan arah mata angin. Oya hampir kelupaan, keunikan lain dari Candi Sambisari ini adalah letaknya yang berada di bawah tanah (Kedalamannya menyusul yach, ngga jelas sich tulisannya… hehehe)
Berdasarkan arca-arca yang terdapat di lokasi Candi Sambisari dapat ditarik kesimpulan bahwa latar belakang keagamaannya adalah Siwaistis. Tahun pendirian candi belum dapat diketahui secara pasti, tapi ditinjau dari segi arsitektur dan jenis batu isian yang dipergunakan diperkirakan berasal dari abad IX Masehi (832 - 838 M). Pendapat ini diperkuat dengan adanya penemuan lempengan bertulisan yang berdasarkan tafsiran paleografinya, tulisan tersebut berasal dari sekitar permulaan abad IX Masehi. Mengenai siapa pendirinya juga belum diketahui dengan pasti. Berdasarkan Prasasti Wanua Tengah III tahun 908 M, terdapat nama raja-raja Dinasti Mataram Hindu dan dari daftar nama tersebut yang paling mendekati pada tahun pendirian Candi Sambisari adalah Rakai Garung (memerintah pada tahun 820 - 846 M). Tentu aja dengan catatan bahwa tidak semua candi didirikan oleh raja yang memerintah.
Udah dapat sedikit gambaran tentang candi ini khan?! Sukurlah… ngga sia-sia tuch pengorbanan si papan yang rela berdiri bertahun-tahun tanpa kenal lelah memberikan informasinya demi mencerdaskan anak-anak bangsa khususnya yang masih peduli ma hal-hal semacam ini (peninggalan sejarah dan sejenisnya).
Gambar: Candi Sambisari by Menul (dok. pribadi -hak cipta dilindungi-)

Wah, kalau ada anak muda yang membuat website tentang warisan budaya ini saya jadi senang, berarti masih ada generasi muda yang peduli pada warisan budaya bangsa, aku senang, semogaa dengan demikian apresiasi generasi muda terhadap karya-karya budaya nenek moyang bisa ditingkatkan, siapa lagi.
Pergi ke mall boleh, pergi ke luar negeri oke, tapi tolong dong jangan lupakan museum, candi kita…..
Makasih Mbak..
Karena saya tidak dapat berbuat banyak, jadi yang sedikit ini semoga bisa memberikan manfaat..