
Keterangan gambar: Tangga naik yang terdapat pada bangunan barak prajurit, sekarang bangunan tsb difungsikan sebagai ruang pameran

Keterangan gambar: Tangga naik yang terdapat pada bangunan barak prajurit, sekarang bangunan tsb difungsikan sebagai ruang pameran
Posted in museum | Tagged museum | Leave a Comment »

Keterangan gambar: Salah satu lorong barak prajurit, sekarang ruangan barak ini digunakan sebagai ruang pameran.
Posted in museum | Tagged museum | 1 Comment »

Secara kronologis sejak awal dibangun (1760) s/d runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda (1942), perubahan status kepemilikan dan fungsi bangunan benteng tsb adalah sbb:
Keterangan gambar: Salah satu bangunan dalam benteng Vredeburg (sekarang), gedung pengapit bagian Selatan yang sekarang ini digunakan sebagai Ruang Pameran (lantai atas bangunan)
Posted in museum | Tagged museum | 2 Comments »
Rabu, 17 Mei 2006 lewat Malioboro, sekalian aja mampir ke benteng Vredeburg. Mumpung bawa camera, bisa foto-foto neh… Rencananya sich pinjem camera buat motret Merapi, but tu gunung lagi ngga mo nongolin bentuknya, alias ketutup awan atau kabut ya?! Padahal pas hari Senin tanggal 15 Mei, tu gunung keliatan jelas, termasuk ‘wedhus gembelnya’. Karena ngga bisa dapetin gambar Merapi, akhirnya aku ‘n Menul jalan-jalan aja ke arah Malioboro ‘n menyangkutkan diri di benteng Vredeburg.
Benteng Vredeburg ini terletak di Jl. Jend. A. Yani 6 Yogyakarta (ujung Selatan Malioboro). Kalo mo telp, bisa hubungi nomor telp +62 274 586934 atau 510996 hehehe… Museum Benteng Vredeburg berada dibawah pengelolaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, terbuka untuk umum dengan jam kunjungan pada hari Selasa s/d Kamis 08.00 – 14.00 WIB; Jum’at 08.00 – 11.00 WIB; Sabtu 08.00 – 12.00 WIB ‘n Minggu 08.00 – 13.00 WIB. Tiket masuk untuk dewasa/umum Rp. 750,- ‘n anak-anak/pelajar Rp. 250,-
Yang menarik dari Museum Benteng Vredeburg adalah bentuk/arsitektur bangunannya ‘n juga terdapat koleksi-koleksi lain yang berupa koleksi realia (koleksi berupa benda-koleksi asli, bukan tiruan, yang berperan langsung dalam peristiwa sejarah, seperti: senjata, naskah, pakaian, meubeler, dll) serta koleksi hasil visualisasi berupa miniatur, replica, foto-foto dan lukisan serta diorama (penggambaran suatu peristiwa dengan system 3 dimensi).
Untuk foto-foto yang aku ‘n Menul ambil, sebagian besar merupakan foto bangunan Museum Benteng Vredeburg (foto-foto outdoor) soalnya kami emang sengaja ngga ngambil foto dalam ruangan (indoor) mengingat keterbatasan cahaya dalam ruangan (sengaja dibuat remang-remang mungkin dengan maksud untuk memberikan kesan pada dioramanya), mo pake blitz juga percuma, baterenya dah low lagi padahal ngga bawa batere cadangan (makanya Nul, kalo mo motret-motret tu bawa cadangan batere yang banyak… hehehe).
Keterangan gambar: Pintu gerbang benteng Vredeburg (gerbang Barat). Mengingat konsep bangunan benteng yang berbentuk simteris, direncanakan mempunyai 4 gerbang untuk keluar – masuk (di Selatan, Timur, Utara ‘n Barat). Karena pembangunan benteng memakan waktu lama, maka konsep mengalami perubahan dikarenakan situasi, sehingga pintu gerbang tidak dibuat seluruhnya. Hanya ada 3 pintu gerbang (Barat, Timur ‘n Selatan) ‘n gerbang Selatan hanya dibuat kecil (lebih tepat disebut terowongan), sehingga arus keluar – masuk melalui pintu gerbang Barat ‘n Timur aja. Sekarang ini pintu gerbang Timur tidak difungsikan lagi alias ditutup/digembok, gerbang ini menuju ke arah Taman Pintar Yogyakarta
Posted in museum | Tagged museum | Leave a Comment »
Sementara sedikit informasi yang aku tau tentang ni candi adalah letaknya, yaitu di Selatan Dusun Cepit, Desa Bokoharjo yang termasuk dalam Kecamatan Prambanan ‘n Kabupaten Sleman Propinsinya pastilah Daerah Istimewa Yogyakarta!
Ini dia sedikit informasi tentang Candi Banyunibo. Karena males kesana lagi, akhirnya aku cari-cari lewat internet ‘n ketemu dech di GudegNet.
Waktu pertama kali ditemukan, candi ini dalam keadaan runtuh. Kemudian diteliti dan mulai digali pada tahun 1940-an. Susunan bangunan candi belum diketahui secara pasti, tetapi dari bagian-bagian yang tampak diperkirakan candi Banyunibo terdiri dari satu candi induk yang menghadap ke Barat dan dikelilingi 6 (enam) candi perwara berbentuk stupa yang disusun berderet di Selatan dan Timur candi induk. Ukuran masing-masing fondasi stupa hampir sama, yaitu 4,80 x 4,80 m. Di sebelah Utara candi induk, terdapat tembok batu sepanjang kurang lebih 65 m yang membujur arah Barat Timur. Berdasarkan bentuk atap candi induk dan bentuk candi perwara yang berupa stupa, maka latar belakang keagamaan Candi Banyunibo adalah Buddha, dan diperkirakan berasal dari abad IX.
Untuk candi induk berukuran 15,325 x 14,25 m dengan tinggi 14,25 m. Tubuh candi berukuran lebih kecil dari kakinya, sehingga di sekeliling tubuh terbentuk lorong yang disebut selasar (berfungsi sebagai lorong untuk mengelilingi candi). Kaki candi mempunyai ketinggian 2,5 m dibangun di atas lantai batu. Pada masing-masing sudut kaki candi dan di bagian tengah masing-masing sisi kaki candi (kecuali sisi sebelah Barat) terdapat hiasan berupa Jaladwara yang dipasang di lantai atas kaki candi dan berfungsi sebagai saluran air hujan. Di sisi Barat candi terdapat penampil dengan tangga di tengahnya, berfungsi sebagai jalan masuk atau pintu menuju bilik candi. Pada dinding penampil sebelah kanan (Utara) terdapat relief seorang wanita dalam sikap duduk, kaki kiri ditekuk ke atas dan kaki kanan dalam posisi sila. Tangan kanan menumpang di pupu dan tangan kiri menimang anak kecil. Disekelilingnya terdapat anak-anak kecil mengerumuni wanita tsb. Relief tersebut menggambarkan Hariti, Dewi Kesuburan dalam agama Buddha. Pada dinding sebelah Selatan terdapat relief yang menggambarkan seorang tokoh laki-laki. Relief tsb sudah rusak, tinggal tersisa bagian tangan kirinya. Di sebelah kirinya ada seorang pengiring (pariwara) dalam sikap duduk ‘ardha paryangka’. Tangan kanan di atas pupu kanan, tangan kiri bersikap seolah-olah melindungi kantong besar. Dengan melihat ciri yang ada pada relief tsb diperkirakan menggambarkan Dewa Kurawa yang merupakan Dewa Kekayaan dalam agama Budha. Tetapi ada juga yang menggambarkan relief tsb sebagai Vaisaravana (suami Dewi Hariti). Pada dinding luar tubuh candi terdapat arca Boddhisatva. Pada dinding bilik sisi Utara, Timur, dan Selatan terdapat relung-relung yang menonjol dan berbingkai dengan hiasan bebentuk kala-makara untuk menempatkan arca. Pada kaki candi sendiri terdapat hiasan (relief) berupa tumbuh-tumbuhan yang keluar dari pot bunga, juga pahatan tokoh-tokoh yang belum diketahui identitasnya, hiasan kala-makara dan relief antefix-antefix. Hiasan pada atap candi tidak terlalu banyak. Dari luar nampak bahwa bagian bawah atap candi berbentuk daun bunga padma, dan diatasnya diletakkan punak atap yang berbentuk stupa.
Posted in Temple | Tagged Temple | 5 Comments »

Posted in situs | Tagged situs | 2 Comments »

Posted in Temple | Tagged Temple | Leave a Comment »

Seperti yang udah diceritakan di postingan sebelum ini (tentang Candi Abang), aku ‘n Kang Menul sempat nyasar ke Gua Jepang. Gua Jepang yang ini merupakan salah satu dari sekian banyak Gua Jepang yang bertebaran di wilayah Indonesia. Heran ya, kenapa orang Jepun demen banget bikin gua ‘n ngumpet di gua?! Gua Jepang yang satu ini berlokasi di Dukuh Blambangan Desa Jogotirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman DIY. Di Gua Jepang ini terdapat 4 lorong untuk masuk. Kalo ngga salah masing-masing lorong ini saling berhubungan. Karena kondisi yang gelap dan becek, aku ‘n Kang Menul ngga berani menelusuri gua terlalu jauh. Apalagi kami ngga membawa peralatan yang memadai. Jadi kami juga ngga tau apakah gua ini tembus ke suatu tempat atau buntu. Waktu masuk ke dalam gua, aku sempet ngeri juga. Sempet parno gara-gara hari sebelumnya nonton TV yang acara hewan-hewan berbahaya (salah satunya ular), jadi kepikiran jangan-jangan ada ular juga di gua ini hehehe…
Biasanya orang Jepang (pada masa Perang Dunia II) menggunakan gua-gua ini sebagai tempat perlindungan/pertahanan militer. Aku ngga tau apakah Gua Jepang di Jogotirto ini juga digunakan untuk itu, ataukah ada fungsi yang lain. Monggo kalo ada yang tau, bisa ditambahkan.
Keterangan Gambar: Salah satu lorong Gua Jepang di Dukuh Blambangan Desa Jogotirto, by Menul
Posted in situs | Tagged situs | 3 Comments »

Berdasarkan literatur yang aku baca (kemudian), karena di lokasi Candi Abang ini tidak ditemukan papan informasi, katanya Candi Abang ini dibangun sekitar abad ke-9 dan ke-10. Yaitu pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini merupakan candi Hindu. Bentuk candi (konon) berupa segi empat dengan ukuran 36 x 34 m. Dan katanya, sewaktu pertama kali ditemukan di dalam candi ini terdapat arca dan alas yoni lambang Dewa Siwa yang berbentuk segi delapan (alas yoni yang biasa ditemukan biasanya berbentuk segi empat) dengan sisi berukuran 15 cm. Jangan harap kita akan melihat arca maupun alas yoni ini ketika kita berkunjung ke Candi Abang saat ini. Melihat bentuk utuh Candi Abang aja ngga kesampean apalagi melihat arca plus alas yoni, yang mungkin saat ini sudah diamankan di tempat lain.
Yah demikianlah hasil jalan-jalan kami ke Candi Abang. Sekarang kami udah ngga penasaran lagi. Biarpun tidak bisa dikatakan puas, setidaknya kami jadi tau ohhh itu toh yang dinamakan Candi Abang. Oya, pemandangan di lokasi Candi Abang ini bagus banget lohh… Kalo cuaca lagi terang, kita bisa melihat megahnya Gunung Merapi juga pemandangan lain yang ngga kalah OK. Eitss bentar, kaya’nya ada yang kelupaan nich. Candi Abang ini berlokasi di Dusun Candi Abang Desa Jogotirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman DIY. Satu lagi, orang hamil dilarang kesini! Bukan kenapa-kenapa, perjalanan yang penuh goncangan takutnya bisa menyebabkan keguguran. Behhh jalannya bo’ top markotop dech. Perutku yang penuh mie ayam jadi mules setelah melalui jalan yang huhuhuhu…. bikin kita mumbul-mumbul.
Keterangan Gambar: (bukit) Candi Abang, by Inyu
Posted in Temple | Tagged Temple | Leave a Comment »

Keterangan: Dsn = Dusun; Ds = Desa; Kec = Kecamatan; Kab = Kabupaten
Posted in situs | Tagged situs | 9 Comments »