Feeds:
Posts
Comments

 

museum

Berita Proklamasi 17 Agustus 1945 yang diterima oleh Kantor Berita Domei cabang Yogyakarta menimbulkan berbagai aksi, diantaranya: pengibaran bendera merah putih, perampasan bangunan dan pelucutan senjata tentara Jepang. Setelah benteng Vredeburg dikuasai oleh pihak RI, selanjutnya diserahkan kepada instansi militer ‘n dipergunakan sebagai asrama serta markas pasukan dengan kode staf ‘Q’, dibawah komando Letnan Muda I Radio. Tugas pasukan ini mengurusi perbekalan militer.
Pada masa Agresi Militer II, 19 Desember 1948, benteng Vredeburg menjadi sasaran bom Belanda sehingga kantor TKR yang ada didalamnya hancur. Tentara Belanda dibawah komando Kolonel Van Langen berhasil menguasai Yogyakarta termasuk benteng Vredeburg, yang selanjutnya benteng digunakan sebagai markas IVG (Informatie Voor Geheimen atau Dinas Rahasia Belanda). Disamping itu benteng Vredeburg juga difungsikan sebagai asrama prajurit ‘n tempat penyimpanan senjata barat (tank, panser ‘n kendaraan militer lainnya).
Setelah Belanda meninggalkan Yogyakarta (peristiwa Yogya Kembali, 29 Juni 1949) benteng Vredeburg dikuasai oleh APRI (Angkatan Perang RI) yang pengelolaannya diserahkan kepada Sekolah Militer Akademi. Setelah peristiwa G 30 S/PKI (tahun 1965) untuk sementara benteng Vredeburg digunakan sebagai tempat tapol (tahanan politik) dibawah pengawasan Dephankam.
Tahun 1976 diadakan studi kelayakan bangunan benteng, selanjutnya proses ke arah pelestarian bangunan benteng terus dijalankan. Tanggal 9 Agustus 1980 dilakukan penandatanganan perjanjian antara Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku pihak I ‘n Dr. Daud Jusuf (Mendikbud saat itu) sebagai pihak II tentang ‘Pemanfaatan bangunan bekas benteng Vredeburg sebagai pusat informasi dan pengembangan budaya nusantara’. Tahun 1981 bangunan bekas benteng Vredeburg ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) berdasarkan Ketetapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0224/U/1981, tanggal 15 Juli 1981. Tanggal 5 November 1984, Prof. Dr. Nugroho Notosusanto (Mendikbud pada saat itu) mengatakan bahwa bangunan bekas benteng Vredeburg akan difungsikan sebagai Museum Perjuangan Nasional. Dalam perjanjian serta surat Sri Sultan HB IX No. 359/HB/85, tanggal 16 April 1985, disebutkan bahwa perubahan-perubahan tata ruang gedung-gedung dalam kompleks benteng diijinkan sesuai dengan kebutuhan. Untuk selanjutnya dilakukan pemugaran bangunan untuk ditingkatkan fungsinya sebagai Museum. Tahun 1987 Museum dibuka ‘n dapat dikunjungi umum. 23 November 1992 bangunan bekas benteng Vredeburg resmi menjadi Museum Khusus Perjuangan Nasional berdasarkan SK Mendikbud RI (saat itu dijabat oleh Prof. Dr. Fuad Hasan) No. 0475/O/1992, dengan nama ‘Museum Benteng Yogyakarta’.

Keterangan gambar: Tangga naik yang terdapat pada bangunan barak prajurit, sekarang bangunan tsb difungsikan sebagai ruang pameran

museum

Bala tentara Jepang masuk Yogyakarta tanggal 6 Maret 1942. Selanjutnya mereka menempati gedung-gedung pemerintah yang semula ditempati Belanda. Pemusatan kekuatan tentara Jepang ditempatkan di Benteng Vredeburg dan Kotabaru. Kesatuan tentara Jepang yang bermarkas di Benteng Vredeburg adalah Kempeitei. Disamping sebagai markas, benteng Vredeburg juga digunakan sebagai tempat tawanan (orang Belanda ‘n Indo Belanda serta politisi Indonesia yang ditangkap karena menentang Jepang), serta tempat penyimpanan senjata ‘n amunisi yang didatangkan dari Semarang. Sebagai kantor Kooti Zium Kyoku Tjokan (Gubernur Jepang) adalah gedung Tjokan Kantai (sekarang Gedung Agung) yang berada di seberang benteng. Penguasaan tentara Jepang atas benteng Vredeburg berlangsung dari tahun 1942 s/d 1945.

Keterangan gambar: Salah satu lorong barak prajurit, sekarang ruangan barak ini digunakan sebagai ruang pameran.

 

museum

Sebelum benteng dibangun pada lokasinya sekarang, pada tahun 1760 atas permintaan Belanda, Sultan Hamengku Buwono I membangun sebuah benteng sederhana berbentuk bujur sangkar, dengan tempat penjagaan (disebut seleka atau bastion) di ke-4 sudutnya. Ke-4 sudut tsb diberi nama masing-masing Jayawisesa (sudut Barat Laut), Jayapurusa (Timur Laut), Jayaprakosaningprang (Barat Daya), Jayaprayitna (Tenggara). Pada tahun 1765, WH Ossenberg (pengganti Gubernur Nicolaas Hartingh) mengusulkan kepada Sultan agar benteng diperkuat sehingga keamanan lebih terjamin. Setelah disepakati, maka pembangunan benteng dimulai tahun 1767 dibawah pengawasan ahli bangunan, Ir. Frans Haak, dan selesai tahun 1787. Pembangunan memakan waktu lama (20 tahun) dikarenakan Sultan selaku penyandang dana (maksudnya yang nyediain material plus tenaga,gituu…) tengah disibukkan dengan pekerjaan pembangunan Kraton Yogyakarta. Bangunan benteng yang telah disempurnakan tsb diberi nama Rustenburg alias Benteng Peristirahatan. Pada tahun 1867 Yogyakarta dilanda gempa yang mengakibatkan bangunan benteng Rustenburg mengalami kerusakan. Setelah diadakan perbaikan, nama Rustenburg diganti menjadi Vredeburg yang artinya Benteng Perdamaian.

Secara kronologis sejak awal dibangun (1760) s/d runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda (1942), perubahan status kepemilikan dan fungsi bangunan benteng tsb adalah sbb:

  • Tahun 1760 – 1765: Status tanah benteng milik kasultanan Yogyakarta, tapi penggunaannya dihibahkan kepada Belanda (VOC) dibawah pengawasan Nicolaas Hartingh (Gubernur dari Direktur Pantai Utara Jawa)
  • Tahun 1765 – 1788: Secara de jure status tanah benteng tetap milik kasultanan, tetapi secara de facto penguasaan benteng ‘n tanahnya dipegang Belanda. Usul Gubernur WH Ossenberg (pengganti Nicolaas Hartingh) agar bangunan benteng disempurnakan, dilaksanakan tahun 1767 (periode penyempurnaan benteng ke bentuk benteng pertahanan)
  • Tahun 1788 – 1799: Status tanah benteng secara yuridis formal tetap milik kasultanan, secara de facto dikuasai sepenuhnya oleh Belanda (VOC). Tahun 1799 VOC bangkrut sehingga penguasaan benteng diambil alih oleh Bataafsche Republic (pemerintah Belanda)
  • Tahun 1799 – 1807: Status benteng secara de jure tetap milik kasultanan tapi secara de facto dibawah kekuasaan Bataafsche Republic, dibawah Gubernur Van den Burg. Benteng tetap difungsikan sebagai markas pertahanan.
  • Tahun 1807 – 1811: Pengelolaan benteng diambil alih oleh Koninklijk Holland (Kerajaan Belanda), dibawah Gubernur Daendels, tapi secara yuridis formal tanah benteng tetap milik kasultanan.
  • Tahun 1811 – 1816: Inggris berkuasa di Indonesia. Untuk sementara benteng dikuasai Inggris dibawah Gubernur Jenderal Raffles.
  • Tahun 1816 ­– 1942: Belanda dapat mengambil alih kekuasaan Inggris. Walaupun status tanah benteng tetap milik kasultanan, tapi karena kuatnya pengaruh Belanda maka pihak kasultanan tidak dapat berbuat banyak dalam masalah penguasaan benteng Vredeburg, sampai akhirnya benteng dikuasai tentara Jepang pada tahun 1942.

Keterangan gambar: Salah satu bangunan dalam benteng Vredeburg (sekarang), gedung pengapit bagian Selatan yang sekarang ini digunakan sebagai Ruang Pameran (lantai atas bangunan)

Museum : Benteng Vredeburg

museum

Rabu, 17 Mei 2006 lewat Malioboro, sekalian aja mampir ke benteng Vredeburg. Mumpung bawa camera, bisa foto-foto neh… Rencananya sich pinjem camera buat motret Merapi, but tu gunung lagi ngga mo nongolin bentuknya, alias ketutup awan atau kabut ya?! Padahal pas hari Senin tanggal 15 Mei, tu gunung keliatan jelas, termasuk ‘wedhus gembelnya’. Karena ngga bisa dapetin gambar Merapi, akhirnya aku ‘n Menul jalan-jalan aja ke arah Malioboro ‘n menyangkutkan diri di benteng Vredeburg.

Benteng Vredeburg ini terletak di Jl. Jend. A. Yani 6 Yogyakarta (ujung Selatan Malioboro). Kalo mo telp, bisa hubungi nomor telp +62 274 586934 atau 510996 hehehe… Museum Benteng Vredeburg berada dibawah pengelolaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, terbuka untuk umum dengan jam kunjungan pada hari Selasa s/d Kamis 08.00 – 14.00 WIB; Jum’at 08.00 – 11.00 WIB; Sabtu 08.00 – 12.00 WIB ‘n Minggu 08.00 – 13.00 WIB. Tiket masuk untuk dewasa/umum Rp. 750,- ‘n anak-anak/pelajar Rp. 250,-

Yang menarik dari Museum Benteng Vredeburg adalah bentuk/arsitektur bangunannya ‘n juga terdapat koleksi-koleksi lain yang berupa koleksi realia (koleksi berupa benda-koleksi asli, bukan tiruan, yang berperan langsung dalam peristiwa sejarah, seperti: senjata, naskah, pakaian, meubeler, dll) serta koleksi hasil visualisasi berupa miniatur, replica, foto-foto dan lukisan serta diorama (penggambaran suatu peristiwa dengan system 3 dimensi).

Untuk foto-foto yang aku ‘n Menul ambil, sebagian besar merupakan foto bangunan Museum Benteng Vredeburg (foto-foto outdoor) soalnya kami emang sengaja ngga ngambil foto dalam ruangan (indoor) mengingat keterbatasan cahaya dalam ruangan (sengaja dibuat remang-remang mungkin dengan maksud untuk memberikan kesan pada dioramanya), mo pake blitz juga percuma, baterenya dah low lagi padahal ngga bawa batere cadangan (makanya Nul, kalo mo motret-motret tu bawa cadangan batere yang banyak… hehehe).

Keterangan gambar: Pintu gerbang benteng Vredeburg (gerbang Barat). Mengingat konsep bangunan benteng yang berbentuk simteris, direncanakan mempunyai 4 gerbang untuk keluar – masuk (di Selatan, Timur, Utara ‘n Barat). Karena pembangunan benteng memakan waktu lama, maka konsep mengalami perubahan dikarenakan situasi, sehingga pintu gerbang tidak dibuat seluruhnya. Hanya ada 3 pintu gerbang (Barat, Timur ‘n Selatan) ‘n gerbang Selatan hanya dibuat kecil (lebih tepat disebut terowongan), sehingga arus keluar – masuk melalui pintu gerbang Barat ‘n Timur aja. Sekarang ini pintu gerbang Timur tidak difungsikan lagi alias ditutup/digembok, gerbang ini menuju ke arah Taman Pintar Yogyakarta

temple
Waktu maen ke sana (Candi Banyunibo – Red-) doeloe, ngga sempat ngedokumentasiin informasi mengenai candi ini. Cuma sempet ambil 1 gambar Candi Banyunibo tampak depan (itupun dilakukan dari luar pagar). Abis waktu itu ngga ada yang jaga, adanya ABG-ABG yang pada pacaran! Jadinya males ahh… ntar dikirain mo ngintip orang pacaran lagi. Insyaallah, kalo sempet maen ke sana lagi, aku usahain dapet sekilas info tentang ni candi.

Sementara sedikit informasi yang aku tau tentang ni candi adalah letaknya, yaitu di Selatan Dusun Cepit, Desa Bokoharjo yang termasuk dalam Kecamatan Prambanan ‘n Kabupaten Sleman Propinsinya pastilah Daerah Istimewa Yogyakarta!

Ini dia sedikit informasi tentang Candi Banyunibo. Karena males kesana lagi, akhirnya aku cari-cari lewat internet ‘n ketemu dech di GudegNet.

Banyunibo, nama ini terdiri dari 2 suku kata (dalam bahasa Jawa) yaitu banyu yang berarti air dan nibo yang berarti jatuh atau dalam konteks ini adalah menetes, jadi arti keseluruhan adalah air yang menetes. Mengapa disebut air yang menetes? Pertanyaan ini menggelitik rasa ingin tahu-ku. Apakah bentuk bangunan candi yang seperti air menetes? Atau di dalam bangunan candi ada air yang selalu menetes? Sayang, sampai saat ini aku belum dapat informasi yang bisa menjelaskan asal usul nama banyunibo tsb. Yang aku tau, candi ini juga disebut ’si sebatang kara banyunibo’ (kaciannnn yaa…). Sebatang kara bukan karena telah menjadi yatim piatu serta tak bersanak saudara (emangnya ada candi beranak?), tetapi karena lokasi candi ini yang terpencil di tengah persawahan, terpisah dari kelompok candi-candi yang lain.

Waktu pertama kali ditemukan, candi ini dalam keadaan runtuh. Kemudian diteliti dan mulai digali pada tahun 1940-an. Susunan bangunan candi belum diketahui secara pasti, tetapi dari bagian-bagian yang tampak diperkirakan candi Banyunibo terdiri dari satu candi induk yang menghadap ke Barat dan dikelilingi 6 (enam) candi perwara berbentuk stupa yang disusun berderet di Selatan dan Timur candi induk. Ukuran masing-masing fondasi stupa hampir sama, yaitu 4,80 x 4,80 m. Di sebelah Utara candi induk, terdapat tembok batu sepanjang kurang lebih 65 m yang membujur arah Barat Timur. Berdasarkan bentuk atap candi induk dan bentuk candi perwara yang berupa stupa, maka latar belakang keagamaan Candi Banyunibo adalah Buddha, dan diperkirakan berasal dari abad IX.

Untuk candi induk berukuran 15,325 x 14,25 m dengan tinggi 14,25 m. Tubuh candi berukuran lebih kecil dari kakinya, sehingga di sekeliling tubuh terbentuk lorong yang disebut selasar (berfungsi sebagai lorong untuk mengelilingi candi). Kaki candi mempunyai ketinggian 2,5 m dibangun di atas lantai batu. Pada masing-masing sudut kaki candi dan di bagian tengah masing-masing sisi kaki candi (kecuali sisi sebelah Barat) terdapat hiasan berupa Jaladwara yang dipasang di lantai atas kaki candi dan berfungsi sebagai saluran air hujan. Di sisi Barat candi terdapat penampil dengan tangga di tengahnya, berfungsi sebagai jalan masuk atau pintu menuju bilik candi. Pada dinding penampil sebelah kanan (Utara) terdapat relief seorang wanita dalam sikap duduk, kaki kiri ditekuk ke atas dan kaki kanan dalam posisi sila. Tangan kanan menumpang di pupu dan tangan kiri menimang anak kecil. Disekelilingnya terdapat anak-anak kecil mengerumuni wanita tsb. Relief tersebut menggambarkan Hariti, Dewi Kesuburan dalam agama Buddha. Pada dinding sebelah Selatan terdapat relief yang menggambarkan seorang tokoh laki-laki. Relief tsb sudah rusak, tinggal tersisa bagian tangan kirinya. Di sebelah kirinya ada seorang pengiring (pariwara) dalam sikap duduk ‘ardha paryangka’. Tangan kanan di atas pupu kanan, tangan kiri bersikap seolah-olah melindungi kantong besar. Dengan melihat ciri yang ada pada relief tsb diperkirakan menggambarkan Dewa Kurawa yang merupakan Dewa Kekayaan dalam agama Budha. Tetapi ada juga yang menggambarkan relief tsb sebagai Vaisaravana (suami Dewi Hariti). Pada dinding luar tubuh candi terdapat arca Boddhisatva. Pada dinding bilik sisi Utara, Timur, dan Selatan terdapat relung-relung yang menonjol dan berbingkai dengan hiasan bebentuk kala-makara untuk menempatkan arca. Pada kaki candi sendiri terdapat hiasan (relief) berupa tumbuh-tumbuhan yang keluar dari pot bunga, juga pahatan tokoh-tokoh yang belum diketahui identitasnya, hiasan kala-makara dan relief antefix-antefix. Hiasan pada atap candi tidak terlalu banyak. Dari luar nampak bahwa bagian bawah atap candi berbentuk daun bunga padma, dan diatasnya diletakkan punak atap yang berbentuk stupa.

Arca Gupolo

arca gupolo

Setelah dari Goa Sentono aku ‘n Kang Menul melanjutkan perjalanan menuju Candi Ijo, mumpung motor udah diservice, jadi lumayan kuat dipake menanjak (tapi tetap dibantu doa biar ngga macet di tengah tanjakan hehehe…). FYI, jalan menuju Candi Ijo emang dipenuhi tanjakan, tapi untungnya saat ini udah lumayan alus dibanding doeloe (waktu pertama kali menjelajah daerah sini). Sebelum sampai di Candi Ijo (dalam perjalanan) aku melihat plang penunjuk arah, di situ di tulis Candi Ijo arah lurus ‘n Arca Gupolo belok kanan. Hohohoho… Arca Gupolo ya, aku belum pernah denger, kaya’nya menarik juga nich untuk dikunjungi.
Akhirnya aku ‘n Kang Menul berbelok menuju arah yang ditunjukkan papan penunjuk tsb. Sambil tolah-toleh mata mencari petunjuk berikutnya, soalnya kami belum pernah ke sini. Namun petunjuk yang kami maksud tak jua kami temui. Nah harus bertanya nich. Kebetulan ada remaja cowok yang melintas di jalan yang kami lalui, dan beliau dengan jelas menunjukkan keberadaan Arca Gupolo yang kami cari-cari (makasih ya de’…). Letak Arca Gupolo ini dari jalan masuk sekitar 300-an meter masuk ke dalam menyusuri jalan kecil, selanjutnya masih harus turun ke bawah sekitar 100-an meter. Nah untuk turun ke bawah ini hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki (motor terpaksa ditinggal di atas). Hati-hati melangkah, karena tanahnya cukup licin, lebih baik menapak pada batuannya. Oya, ada yang kelupaan, Arca Gupolo ini berlokasi di Desa Sambirejo Kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman DIY.
Arca Gupolo, dalam bayanganku adalah arca raksasa yang membawa gada, seperti arca-arca yang biasanya ada di pintu masuk gedung. Itu lohhh… yang posisinya jongkok sambil bawa gada (mungkin ada yang bilang bawa pentungan hehehe) jadi kaya’ penjaga pintu gitu. Tapi ternyata yang dimaksud Arca Gupolo itu bukan gupolo seperti yang aku bayangkan. Arca Gupolo yang ini adalah kumpulan arca (ada yang bilang 7 buah arca, tapi yang masih bisa dilihat bentuknya hanya sekitar 3 atau 4 arca) yang berciri agama Hindu. Dari yang masih bisa dilihat bentuknya tsb, yang terbesar adalah arca Agastya setinggi kurang lebih 2 meter, dengan senjata Trisula yang merupakan lambang Dewa Siwa. Arca ini dalam posisi berdiri. Sedangkan arca-arca yang lain lebih kecil ukurannya dan dalam posisi duduk. Bahkan beberapa arca sudah tidak ada lagi bagian kepalanya dan yang lebih parah hanya menyisakan bagian bawah badan. Untuk arca-arca yang lebih kecil ini kurang jelas detailnya.
Karena Arca Gupolo ini terletak di tengah rerimbunan pohon (semacam di hutan, tapi bukan hutan yang lebat), jadi suasana disini benar-benar teduh cenderung lembab juga sepi, kadang sekilas muncul kesan mistis hehehe… Di dekat lokasi Arca Gupolo ada sumur (sumber air) yang digunakan penduduk setempat untuk mengambil air. Sangat disayangkan kebersihan di sekitarnya kurang diperhatikan, banyak plastik-plastik bekas shampoo kemasan atau detergent atau sabun dll berserakan di situ. Ayo donk, budayakan buang sampah di tempat sampah. Kalo tidak tersedia tempat sampah, bawa aja sampahnya ke rumah, jangan mengotori di sembarang tempat.
Nah balik lagi ke Arca Gupolo, disebut Gupolo karena penduduk setempat taunya kalo arca yang besar itu namanya Gupolo (belum tau dia kalo ternyata namanya Agastya hehehe… makanya kenalan dulu). Disamping itu, mungkin ini ada kaitannya dengan legenda rakyat setempat yang mana menurut legenda, Gupolo adalah nama patih (kalo sekarang lebih terkenal dengan istilah Perdana Menteri) dari Kerajaan Ratu Boko (Ingat-ingat legenda Loro Jonggrang dan Candi Prambanan). Patih Gupolo ini memasukkan dan menguburkan Bandung Bondowoso di sumur Jala Tunda karena telah membunuh raja Ratu Boko. Namun karena kesaktiannya, Bandung Bondowoso bisa bangkit kembali dan bahkan berkeinginan untuk mempersunting Loro Jonggrang (putri raja Ratu Boko), yang tentu saja keinginan Bandung Bondowoso ini tidak mendapat persetujuan. Untuk menolak, Loro Jonggrang merasa takut, sehingga akhirnya sang putri mengajukan syarat yang berat, yaitu Bandung Bondowoso harus membangun 1000 candi dalam waktu semalam. Persyaratan tsb disetujui Bandung Bondowoso yang rupanya udah jatuh cintrong berat pada sang putri, maka dikeluarkanlah segenap kesaktiannya untuk mewujudkan keinginan sang pujaan hati. Demi melihat kesaktian Bandung Bondowoso yang berhasil membangun candi-candi tsb dalam waktu sekejap, cemaslah hati sang putri. Loro Jonggrang pun berniat menggagalkan, dengan berbagai cara dilakukan agar ayam jago berkokok tanda fajar mulai menyingsing, maka dengan demikian gagallah perjuangan Bandung Bondowoso. Padahal hanya kurang 1 candi lagi yang harus dibangun. Karena marah tidak bisa mempersunting Loro Jonggrang, Bandung Bondowoso pun melampiaskan kemarahan tsb dengan mengutuk sang dewi menjadi arca batu untuk menggenapi jumlah candi (menjadi salah satu candi dalam kompleks Candi Prambanan). Demikian kurang lebih ceritanya. Yukkk… lanjutttt (perjalanannya)
Keterangan Gambar: Arca Gupolo (sebenarnya arca Agastya, salah satu dewa dalam agama Hindu), by Menul
Wah harusnya ini ditulis setelah Goa Sentono, tapi karena belum sempet mindah tulisan yang di Yahoo!360, ya udah ini dulu aja yang ditulis

temple

Dari Candi Abang, aku ‘n Kang Menul melanjutkan ke arah Prambanan. Kata teman yang berdomisili di daerah situ, di Prambanan juga terdapat satu lagi candi yaitu Candi Asu. Penasaran dengan informasi teman, aku ‘n Kang Menul mencoba untuk mencari candi tsb. Tanpa mengalami kesulitan, kami berhasil menemukan Candi Asu. Letaknya memang tidak terlalu jauh dari kompleks Candi Prambanan, tepatnya berada di Dukuh Bener Desa Bugisan Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten Propinsi Jawa Tengah.
Candi Asu ini berbeda dengan Candi Asu yang berada di Magelang, walaupun sama-sama bernama asu. Entah kenapa dinamakan Asu, karena Asu dalam bahasa Jawa berarti anjing. Apakah dulunya di situ terdapat patung anjing?! Atau sesuatu yang berkaitan dengan anjing?! Belum ada penjelasan untuk itu. Yang pasti, candi ini menurut literatur dibuat pada abad IX. Candi yang tinggal reruntuhan ini berada di areal seluas 6000 meter persegi (lagi-lagi menurut sumber, http://pariwisata.dipertanklaten.com), berhimpitan dengan perumahan penduduk. Di bagian tenggara terdapat bangunan berbentuk bulat, mirip seperti stupa yang terpotong bagian puncaknya, entah apa fungsi bangunan tsb. Walaupun tinggal reruntuhan, terdapat beberapa relief yang masih utuh/jelas bentuknya, seperti relief berbentuk bunga pada dinding candi, relief yang tampak seperti burung, relief hewan dan tanaman, dsb.
Karena minimnya informasi seputar candi ini, maka cukup sekian dulu postingan ini. Kalo ada informasi baru akan segera ditambahkan (Insya Allah).
Oya, karena candi ini terletak di daerah pemukiman penduduk yang bisa diakses tanpa mengalami kesulitan, menurutku akan sangat rentan terhadap pencurian. Walaupun terdapat peringatan untuk tidak merusak, mengambil atau memindahkan ‘n bla bla bla… dengan sanksi yang cukup dahsyat (penjara selama-lamanya 10 tahun dan/atau denda setinggi-tingginya 100 juta rupiah) rasanya itu tidaklah cukup. Apalah arti sebuah papan peringatan untuk orang yang sudah tidak mampu berpikir jernih. Apa sich yang bisa dilakukan oleh sebuah papan peringatan?
Keterangan Gambar: Salah satu bagian reruntuhan Candi Asu, by Menul

 

goa

Seperti yang udah diceritakan di postingan sebelum ini (tentang Candi Abang), aku ‘n Kang Menul sempat nyasar ke Gua Jepang. Gua Jepang yang ini merupakan salah satu dari sekian banyak Gua Jepang yang bertebaran di wilayah Indonesia. Heran ya, kenapa orang Jepun demen banget bikin gua ‘n ngumpet di gua?! Gua Jepang yang satu ini berlokasi di Dukuh Blambangan Desa Jogotirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman DIY. Di Gua Jepang ini terdapat 4 lorong untuk masuk. Kalo ngga salah masing-masing lorong ini saling berhubungan. Karena kondisi yang gelap dan becek, aku ‘n Kang Menul ngga berani menelusuri gua terlalu jauh. Apalagi kami ngga membawa peralatan yang memadai. Jadi kami juga ngga tau apakah gua ini tembus ke suatu tempat atau buntu. Waktu masuk ke dalam gua, aku sempet ngeri juga. Sempet parno gara-gara hari sebelumnya nonton TV yang acara hewan-hewan berbahaya (salah satunya ular), jadi kepikiran jangan-jangan ada ular juga di gua ini hehehe…

Biasanya orang Jepang (pada masa Perang Dunia II) menggunakan gua-gua ini sebagai tempat perlindungan/pertahanan militer. Aku ngga tau apakah Gua Jepang di Jogotirto ini juga digunakan untuk itu, ataukah ada fungsi yang lain. Monggo kalo ada yang tau, bisa ditambahkan.

Keterangan Gambar: Salah satu lorong Gua Jepang di Dukuh Blambangan Desa Jogotirto, by Menul

 

temple

Hari Minggu, 12 Januari 2008 aku ‘n Kang Menul ada waktu untuk jalan-jalan. Udah lama ngga dolan ke obyek-obyek wisata, udah lama ngga hunting foto (halah gayane!), jadi kangen nehh… Abis maem mie ayam langganan, mulailah kami puter-puter. Kemana?! Karena waktu itu lewat di daerah Berbah Sleman, Kang Menul mengajakku untuk ke Candi Abang. Selama tinggal di Jogja, belum pernah sekalipun kami ke sini. Dengar nama Candi Abang sich dah sering, tapi belum pernah dolan ke sini, makanya kami penasaran banget. Dengan modal nekad kami menuju Candi Abang. Belum pernah kesitu, apa ngga takut kesasar?! Hohohoho… khan ada Kang Menul yang sotoy abis, jangan takut nyasar dech. Bagi yang belum pernah ke Candi Abang, dan ngga tau dimana letak Candi Abang (dukuh, desa, kecamatan) aku sarankan ajak pemandu. Soalnya untuk menuju ke Candi Abang minim papan petunjuk sich. Kemarin aja dengan mengandalkan feeling ‘n juga sempat bertanya 2 kali, plus kesasar ke Gua Jepang, akhirnya tidak sia-sia perjuangan kami menemukan lokasi Candi Abang yang benar-benar terpencil.
Begitu kami lihat plang nama Candi Abang, plongg rasanya. Biarpun untuk kesitu harus sedikit mendaki (motor terpaksa ditinggal di bawah karena ngga kuat mendaki, maklum motor tua), tapi ngga masalah karena sebentar lagi rasa penasaran kami terpenuhi sudah. Dengan semangat ‘45 aku ‘n Kang Menul naik ke atas. Lho, dimana candinya??!! Sebelumnya kami membayangkan bakal melihat bangunan/reruntuhan candi seperti di candi-candi lainnya. Tapi apa yang kami bayangkan ini ternyata tidak kami temui di Candi Abang. Yang ada hanya bukit kecil dengan rerumputan hijau. Dimana gerangan dikau Candi Abang?! Penasaran, aku ‘n Kang Menul naik ke atas bukit, sapa tau Candi Abang terletak di bagian bukit yang agak cekung. Tapi tetap aja kami ngga menemukan keberadaan Candi Abang. Kami mulai curiga, jangan-jangan bukit yang kami naiki inilah Candi Abang yang sebenarnya. huhuhu… maaf, kami tidak tahu. Di bagian bukit yang agak cekung tsb kami lihat susunan batuan (seperti batu bata) diantara rumput-rumputan hijau. Ahahahaha, rupanya nama Candi Abang diberikan karena Candi ini berwarna merah (terbuat dari batu bata). Dalam bahasa Jawa, abang berarti merah. Dan karena terbuat dari batu bata ini sehingga Candi Abang tidak seawet candi-candi lainnya.

Berdasarkan literatur yang aku baca (kemudian), karena di lokasi Candi Abang ini tidak ditemukan papan informasi, katanya Candi Abang ini dibangun sekitar abad ke-9 dan ke-10. Yaitu pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini merupakan candi Hindu. Bentuk candi (konon) berupa segi empat dengan ukuran 36 x 34 m. Dan katanya, sewaktu pertama kali ditemukan di dalam candi ini terdapat arca dan alas yoni lambang Dewa Siwa yang berbentuk segi delapan (alas yoni yang biasa ditemukan biasanya berbentuk segi empat) dengan sisi berukuran 15 cm. Jangan harap kita akan melihat arca maupun alas yoni ini ketika kita berkunjung ke Candi Abang saat ini. Melihat bentuk utuh Candi Abang aja ngga kesampean apalagi melihat arca plus alas yoni, yang mungkin saat ini sudah diamankan di tempat lain.

Yah demikianlah hasil jalan-jalan kami ke Candi Abang. Sekarang kami udah ngga penasaran lagi. Biarpun tidak bisa dikatakan puas, setidaknya kami jadi tau ohhh itu toh yang dinamakan Candi Abang. Oya, pemandangan di lokasi Candi Abang ini bagus banget lohh… Kalo cuaca lagi terang, kita bisa melihat megahnya Gunung Merapi juga pemandangan lain yang ngga kalah OK. Eitss bentar, kaya’nya ada yang kelupaan nich. Candi Abang ini berlokasi di Dusun Candi Abang Desa Jogotirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman DIY. Satu lagi, orang hamil dilarang kesini! Bukan kenapa-kenapa, perjalanan yang penuh goncangan takutnya bisa menyebabkan keguguran. Behhh jalannya bo’ top markotop dech. Perutku yang penuh mie ayam jadi mules setelah melalui jalan yang huhuhuhu…. bikin kita mumbul-mumbul.

Keterangan Gambar: (bukit) Candi Abang, by Inyu

Daftar Situs di DIY

situs

Berikut ini daftar situs klasik yang ada di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.  Dari beberapa situs tsb, ada yang sudah pernah aku kunjungi (‘n sebagian juga dah ditulis di blog), ‘n sebagian lagi merupakan target kunjungan berikutnya hehehe… kalo sempet sich… aseek… aseek… dolan…. dolann…
  1. Situs Payak di Dsn Binuran, Ds Baturetno, Kec Banguntapan, Kab Bantul
  2. Candi Risan Semin di Ds Candirejo, Kec Semin, Kab Gunung Kidul
  3. Candi Barong di Dsn Candisari, Ds Sambirejo, Kec Prambanan, Kab Sleman
  4. Candi Kalasan di Dsn Tegal Kalibening, Ds Tirtomartani, Kec Kalasan, Kab Sleman
  5. Candi Sari di Ds Bendan, Tirtomartani, Kec Kalasan, Kab Sleman
  6. Candi Sambisari di Dsn Sambisari, Ds Purwomartani, Kec Kalasan, Kab Sleman
  7. Candi Gebang di Dsn Gebang, Ds Wedomartani, Kec Ngemplak, Kab Sleman
  8. Candi Banyunibo di Dsn Cepit, Ds Bokoharjo, Kec Prambanan, Kab Sleman
  9. Candi Prambanan di Dsn Karangasem, Ds Bokoharjo, Kec Prambanan, Kab Sleman
  10. Kraton Ratu Boko di Dsn Dawung, Ds Bokoharjo, Kec Prambanan, Kab Sleman
  11. Candi Miri di Dsn Nguwot, Ds Sambirejo, Kec Prambanan, Kab Sleman
  12. Candi Ijo di Dsn Groyokan, Ds Sambirejo, Kec Prambanan, Kab Sleman
  13. Stupa Dawangsari di Dsn Dawangsari, Ds Sambirejo, Kec Prambanan, Kab Sleman
  14. Candi Abang di Dsn Candi Abang, Ds Jogotirto, Kec Berbah, Kab Sleman
  15. Gua Sentono di Dsn Candi Abang, Ds Jogotirto, Kec Berbah, Kab Sleman
  16. Situs Kedulan di Dsn Kedulan, Ds Tirtomartani, Kec Kalasan, Kab Sleman
  17. Situs Watugilang di Ds Gilangharjo, Kec Pandak, Kab Bantul
  18. Candi Gampingan di Dsn Gampingan, Ds Sitimulyo, Kec Piyungan, Kab Bantul
  19. Situs Mangir di Ds Mangir, Kec Pajangan, Kab Bantul
  20. Candi Morangan di Dsn Morangan, Ds Sindumartani, Kec Ngemplak, Kab Sleman
  21. Sumur Bandung di Dsn Groyokan, Ds Sambirejo Kec Prambanan, Kab Sleman
  22. Gua Surocolo di Dsn Poyahan, Ds Seloharji, Kec Pundong, Kab Bantul
  23. Candi Singo do Ds Madurejo, Kec Prambanan, Kab Sleman
  24. Candi Nogosari di Ds Madurejo, Kec Prambanan, Kab Sleman
  25. Candi Grembyangan di Ds Madurejo, Kec Prambanan, Kab Sleman
  26. Candi Sawo di Ds Sumberejo, Kec Prambanan, Kab Sleman
  27. Candi Krapyak di Ds Sumberejo, Kec Prambanan, Kab Sleman
  28. Situs Stupa Glagah di Ds Sidorejo, Kec Temon, Kab Kulon Progo
  29. Situs Wiladeg di Ds Wiladeg, Kec Karangmojo, Kab Gunung Kidul
  30. Situs Watugilang di Ds Watugilang, Kec Banguntapan, Kab Bantul
  31. Candi Sukoliman di Dsn Sokoliman, Ds Bejiharjo, Kec Karangmojo, Kab Gunung Kidul
  32. Candi Konengan di Dsn Konengan, Ds Ngawit, Kec Karangmojo, Kab Gunung Kidul
  33. Candi Sambiroto di Dsn Sambiroto, Ds Banyuroto, Kec Nanggulan, Kab Kulon Progo
  34. Candi Dengok di Dsn Dengok Lor, Ds Poncorejo, Kec Semanu, Kab Gunung Kidul
  35. Candi Nglemuru di Ds Nglemuru, Kec Karangmojo, Kab Gunung Kidul

Keterangan: Dsn = Dusun; Ds = Desa; Kec = Kecamatan; Kab = Kabupaten

Older Posts »